Beranda | Artikel
Jangan Risau! Jodoh Takkan Kemana
8 jam lalu

Pernahkah anda terpaksa berpisah dengan orang yang dikasihi? Orang tua, kerabat, teman, atau bahkan komunitas yang sudah lama membersamai, tetapi pada akhirnya harus ditinggalkan karena alasan tertentu. Jika anda pernah mengalaminya, maka anda dapat merentas rasa sesak di dada dengan menyelami tulisan ini.

Ruh itu ibarat pasukan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

الْأَرْوَاحُ جُنُودُ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang dihimpun. Yang saling mengenal darinya akan bersatu, dan yang saling mengingkari darinya akan berselisih.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadis ini sangat populer di kalangan ulama, banyak diriwayatkan dan disebutkan dalam menjelaskan berbagai perkara. Ibnu Hibban rahimahullah menyebutkan riwayat Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, serta Qatadah meriwayatkan ungkapan semisal.

Allah ﷻ menciptakan ruh ibarat pasukan. Sebuah pasukan dikumpulkan karena sederet kesamaan. Pasukan tentara dikumpulkan dengan atribut pakaian yang sama, keahlian yang sama, atau bahkan yel-yel yang sama. Namun, yang lebih mendasar, mereka dikumpulkan atas tujuan yang sama.

Begitulah permisalan ruh yang Allah ﷻ ciptakan. Ruh itu diciptakan dengan tujuan-tujuan tertentu yang tertanam di dalamnya. Mereka yang memiliki kesamaan visi misi, pasti akan berkumpul dan menemui jalannya.

Orang yang semisal jiwanya, pasti akan bersatu. Sedangkan orang yang berselisih tujuan, pasti akan berpisah. Ini adalah sebuah ketentuan kehidupan yang terpatri dalam hadis yang amat kuat riwayatnya.

Qatadah rahimahullah berkata,

فَأَمَّا أَهْلُ طاعة الله فَقُلُوبُهُم وأهواؤُهُم مُجْتَمِعةٌ وإِنْ تَفَرَّقَتْ دِيارُهُم

“Orang yang menaati Allah ﷻ itu hati dan inginnya mereka bersatu, meskipun kampung mereka terpisah.”

وأهْلُ مَعْصِيةِ اللهِ قُلُوبُهُم مُخْتَلِفَةٌ وَإِنِ اجْتَمَعَتْ دِيَارُهُم

“Adapun ahli maksiat, hati mereka berselisih meski berada di satu kampung.”

Faidah mengetahui jiwa selaras pasti bersatu

Uniknya, pembicaraan tentang jiwa yang bersatu meski berjarak ini, bukanlah pembicaraan lembek yang tiada juntrungannya. Justru kasih sayang yang terjalin antar jiwa ini adalah salah satu tujuan penciptaan manusia.

Allah ﷻ berfirman,

إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ

“Kecuali bagi orang yang dirahmati Allah ﷻ. Untuk itulah Allah ﷻ menciptakan mereka.” (QS. Hud: 119)

Itulah asalnya hubungan orang-orang taat, mereka saling mengasihi dalam perjalanan ketaatan menuju Allah ﷻ. Maka mengherankan bila orang-orang yang mengaku meniti jalan ketaatan, justru banyak berselisih dan pertengkarannya.

Pembahasan ini juga memberikan jawaban bagi kita atas pertanyaan, “Kok bisa ada yang langsung bisa klop meski baru kenal?” Hal ini sering terjadi bagi orang-orang yang aktif berkomunitas, seperti kerelawanan, organisasi, ataupun juga dalam aktivitas dakwah. Memang jiwa itu akan terhubung pada yang satu frekuensi.

Begitupula, kita tidak perlu khawatir atau sedih berlebihan tatkala berpisah dengan komunitas dan teman akrab. Jika hati memang satu tujuan, jauhnya jarak takkan membuat jiwa berselisih. Justru akan saling merindukan, mendukung, dan bekerja sama meski dari jarak jauh.

Baca juga: Antara Dilema dan Galau Menanti Jodoh

Perpisahan yang teramat berat

Akan tetapi, memang perpisahan di antara dua karib yang harmonis akan selalu berat terasa. Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

وإذا ائتلفا ثُمَّ افْتَرَقا فِراقَ حَيَاةٍ مِنْ غَيْرِ بُغْضٍ حَادِثِ أو فِراقَ مَمَاتٍ فَهُنالِكَ المَوْتُ الفَظِيعُ، والأسَفُ الوَجِيعُ

“Jika keduanya telah saling bersatu dan kemudian berpisah tanpa adanya kebencian yang baru muncul, maupun perpisahan karena kematian, maka di sanalah terdapat kematian yang amat dahsyat dan kesedihan yang amat menyakitkan.”

وَلا يَكُونُ مَوْقِفٌ أَطْوَلَ غُمَّةً، ولا أَظْهَرَ حَسْرةً، ولا أدْوَمَ كَابَةً، ولاَ أشَدَّ تَأْسُّفًا، ولا أَكْثَرَ تَلَيُّفًا مِنْ مَوْقِفِ الفِراقِ بَيْنَ المُتَآخِيَين

“Tidak ada keadaan yang lebih lama menimbulkan kesedihan, lebih nyata penyesalannya, lebih langgeng kepedihannya, lebih berat rasa sesalnya, dan lebih besar rasa kehilangannya daripada keadaan ketika dua orang yang saling bersaudara harus berpisah.”

وما ذاقَ ذائِقٌ طَعْمًا أَمَرَّ مِنْ فَراقِ الخِلَّيْنِ وانْصِرامِ القَرِينَينِ

“Tidak ada orang yang pernah merasakan sesuatu yang lebih pahit daripada perpisahan dua sahabat karib dan berakhirnya kebersamaan dua orang yang telah lama bersanding.”

Sebab hati hancur tatkala berpisah

Betapa indah untaian Ibnu Hibban atas pahitnya perpisahan dua karib. Namun, Ibnu Hibban tidak meninggalkan pembahasan ini sebagai wahana menguras air mata. Beliau rahimahullah juga membongkar akar dari rasa berat akibat perpisahan.

Ibnu Hibban rahimahullah ingatkan bahwa rasa sakit perpisahan muncul karena sikap kurang rela atas takdir Allah ﷻ. Seorang muslim hendaknya mempersiapkan hatinya untuk berpisah dan juga kecewa dengan sahabatnya. Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

فَمَنْ وطَّنَ نَفْسَهُ فِي ابْتِدَاءِ المُعاشرة على وُرُودِ ضِدَّ الجَمِيلِ عَلَيْهَا مِنْ صُحْبَتِهِ، وَتَأمُّلِ وُرُودِ المَكْرُوهِ مِنْهُ عَلَى غَفْلَتِهِ، لا يُظْهِرُ الجَزَعَ عِنْدَ الفراق، ولا يَشْكُو الأسَفَ وَالاحْتِرَاقَ، إِلَّا بِمِقْدَارِ مَا يُوجِبُ العِلْمَ إظْهَارُهُ

“Siapa saja yang sejak awal menjalin pergaulan telah mempersiapkan dirinya untuk menerima kemungkinan munculnya sesuatu yang tidak mengenakkan dari sahabatnya, serta menyadari bahwa suatu saat mungkin saja datang sesuatu yang tidak menyenangkan darinya tanpa sengaja, maka ia tidak akan menunjukkan kegelisahan ketika terjadi perpisahan, dan tidak akan mengungkapkan kesedihan serta kepedihan hatinya, kecuali sebatas yang menurut pengetahuan dan keadaan memang mengharuskan untuk ditampakkan.”

Jangan sampai karena patah hati akibat ekspektasi yang runtuh, menjadikan kita seorang yang melampaui dalam kecewa. Mereka yang terlalu cinta dan sayang, ketika dikecewakan yang dikasihinya, niscaya menjadi pembenci utama.

وَلَقَدْ وَلِعَ بِجَماعةِ الفراقُ حَتَّى إِنَّهُم خَرَجُوا إِلَى ثلبِ الطُّيُورِ وقَدْحِ الدِّمَنِ، وَتَأْوَّلُوا لَعْنَ نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلامُ على الغُرَابِ

“Sungguh, rasa cinta terhadap perpisahan telah begitu kuat menguasai sekelompok orang, sampai-sampai mereka melangkah lebih jauh dengan mencela burung-burung dan menjelek-jelekkan tempat-tempat kotor. Bahkan, mereka memahami perbuatan tersebut adalah bentuk mencontoh Nabi Nuh ‘alaihissalam yang melaknat burung gagak.”

Dikisahkan memang Nabi Nuh ‘alaihissalam melaknat burung gagak tatkala ia mengutusnya mencari dataran tempat tinggal di Bukit Judi. Namun, setelah dilepas, justru burung gagak hinggap pada bangkai dan memakannya. Dalam keadaan lelah terombang-ambing, Nabi Nuh pun marah dan melaknatnya. (Diriwayatkan Ibnu Hibban dari Abu Murawih dalam Tarikh Dimasyqi, 26: 266)

Mutiara hikmah

Dari uraian ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa perpisahan pasti terjadi. Namun, kehidupan harus terus berjalan sesuai dengan misi yang kita bawa. Berpegang teguh dengan misi itu, pada akhirnya akan mengundang pertemanan yang sama dengan karib yang sudah terpisah. Meskipun berpisah, selama misi yang sama terus dipegang, hati pun tetap bersatu.

Cintailah siapapun sekadarnya, sebagai membenci sekadarnya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

“Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi.” (HR. At-Tirmidzi no. 1997, disahihkan oleh Al-Albani)

Semoga Allah ﷻ jadikan pertemuan dan perpisahan sebagai momentum berkah. Semoga perasaan yang diuji menjadi ladang pahala.

Baca juga: Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Raudhatul Uqala cet. Arwiqah.

Tafsir Ibnu Katsir.


Artikel asli: https://muslim.or.id/117393-jangan-risau-jodoh-takkan-kemana.html